Saat ini, banyak perusahaan memulai strategi dekarbonisasi untuk memenuhi regulasi keberlanjutan dan mendukung praktik kerja yang bertanggung jawab.
Kabar baiknya, strategi-strategi ini tidak hanya untuk memenuhi tujuan reputasional, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi jejak karbon perusahaan.
Lantas, apa saja strategi dekarbonisasi industri yang dapat dilakukan oleh perusahaan? Untuk mendapatkan jawabannya, simak artikel ini hingga akhir!
Mengapa Dekarbonisasi Penting?
Sebelum membahas strateginya, mari pelajari mengapa dekarbonisasi penting. Apabila berbicara soal dekarbonisasi, Anda mungkin akan mendengar tentang Paris Agreement.
Salah satu tujuan Paris Agreement adalah membatasi pemanasan global di bawah 2 °C dan berupaya menekannya hingga 1,5 °C dibandingkan dengan masa praindustri.
Komitmen ini akhirnya mengharuskan banyak pihak untuk menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan, termasuk sektor industri dan bisnis, agar dapat mencapai titik net-zero (emisi gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer seimbang dengan yang dikeluarkan dari atmosfer).
Lebih lanjut, NASA menjelaskan bahwa rata-rata suhu permukaan Bumi pada tahun 2025 adalah sebesar 1,19°C, lebih hangat dari tahun 2023 dan lebih dingin dari tahun 2024. Suhu ini harus terus dipantau agar tidak terus meningkat dan memperburuk dampak perubahan iklim.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai net zero dan mendukung Tujuan Paris Agreement adalah dekarbonisasi. Metode ini mengurangi atau menghilangkan emisi gas rumah kaca dari atmosfer secara signifikan.
Semakin banyak emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer, suhu Bumi akan semakin meningkat sehingga dampak perubahan iklim akan semakin terasa, seperti munculnya cuaca ekstrem dan naiknya muka air laut.
Itulah mengapa strategi dekarbonisasi yang tepat sasaran sangat dibutuhkan agar dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan menahan suhu Bumi agar tidak terus menghangat.
Baca juga: 6 Jenis Sumber Energi Alternatif Terbarukan untuk Masa Depan
Strategi Dekarbonisasi untuk Bisnis
Bisnis dan industri memainkan peran yang penting dalam mengurangi emisi. Menurut Statista, total emisi karbon global dari penggunaan bahan bakar fosil dan proses industri mencapai 38,11 juta metrik ton (GtCO₂) pada tahun 2025.
Selain untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari proses industri, strategi dekarbonisasi juga memberikan sejumlah manfaat untuk bisnis, seperti mengurangi biaya operasional berkat proses yang semakin efisien, mendapatkan kepercayaan dari stakeholder, meningkatkan nilai bisnis, dan meningkatkan daya saing.
Adapun strategi dekarbonisasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Menentukan Target
Strategi pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan target dekarbonisasi. Meskipun memiliki tujuan yang sama untuk mencapai net-zero, setiap bisnis memiliki kemampuan dan sumber daya masing-masing untuk meraih tujuan tersebut.
Agar strategi dekarbonisasi dapat berjalan mulus, Anda dapat menetapkan target yang kredibel dan terikat waktu melalui kerangka kerja. Anda juga dapat melibatkan sejumlah pemangku kepentingan untuk memastikan dukungan mereka terhadap strategi yang akan dijalankan perusahaan.
2. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Selanjutnya, Anda dapat mulai menelaah kembali proses operasional yang sekiranya terlalu boros energi atau dapat dikembangkan agar lebih efisien. Salah satu caranya adalah dengan otomatisasi beberapa proses bisnis menggunakan perangkat lunak.
Otomatisasi dengan aplikasi dapat mengurangi human error dan mengidentifikasi masalah penggunaan energi yang luput dari pemantauan. Jadi, Anda dapat melihat area yang perlu dikurangi konsumsi energinya.
3. Memanfaatkan Energi Terbarukan
Beralih ke energi terbarukan merupakan strategi dekarbonisasi yang banyak dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan dapat memanfaatkan energi angin, matahari, dan lainnya untuk mendukung proses operasional.
Salah satu energi terbarukan yang banyak digunakan oleh bisnis adalah panel surya. Dengan memanfaatkan sinar matahari, Anda dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mengandalkan listrik dari panel surya.
Terkait panel surya, PT Krakatau Chandra Energi (KCE), yaitu anak usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI), menyediakan empat mekanisme pemasangan panel surya, yaitu Solar On Grid, Solar On Grid with Battery Backup, Solar Off Grid, dan Solar Hybrid.
KCE telah melayani 200+ pelanggan dari sektor industri, bisnis, sosial, hingga pemerintahan, serta 1.500+ pelanggan rumah tangga.
4. Menangani Sisa Emisi dengan Teknologi
Menghilangkan emisi gas rumah kaca secara total dari aktivitas industri mungkin terdengar mustahil. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi lanjutan untuk mendukung proses dekarbonisasi, salah satunya adalah carbon capture and storage (CCS).
Teknologi ini dapat menangkap emisi dari berbagai proses sebelum dilepaskan ke atmosfer dan menyimpannya jauh di bawah tanah. Selain CCS, terdapat juga teknologi penangkap emisi karbon di udara menggunakan kipas khusus.
Baca juga: Potensi & Alasan Pentingnya Investasi Energi Terbarukan
5. Memantau dan Melaporkan Performa Dekarbonisasi
Saat ini, laporan keberlanjutan tidak hanya bertindak sebagai bukti keberhasilan strategi dekarbonisasi, tetapi juga menjadi aspek kompetitif perusahaan.
Laporan keberlanjutan memberikan informasi transparan kepada stakeholder dan masyarakat tentang kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan. Itulah mengapa laporan ini harus disusun dengan fondasi data yang kuat dan mendukung kerangka kerja bisnis yang ada.
Berbicara tentang laporan keberlanjutan, setiap tahunnya, CDI merilis laporan keberlanjutan. Berdasarkan data dalam Laporan Keberlanjutan 2025, penggunaan energi dari panel surya selama tahun 2025 meningkat 146,23%, menunjukkan transisi energi yang lebih bersih secara nyata.
Tidak hanya itu, CDI juga menerapkan pendekatan ABCD untuk mendukung strategi dekarbonisasi. Berikut adalah rinciannya:
- A- Abate existing emissions through energy efficiency: Memodifikasi proses, melakukan digitalisasi, dan menerapkan strategi lainnya untuk mencapai efisiensi energi.
- B- Balance future emissions by incorporating green business: Membangun bisnis energi terbarukan, mengekspansi bisnis dengan emisi rendah, dan lain-lain.
- C- Control emissions through green technology application: Studi penerapan bahan bakar karbon rendah dan implementasi teknologi ramah lingkungan melalui kolaborasi dengan penyedia teknologi dan layanan.
- D- Decarbonize through nature base solutions: Menyediakan solusi berbasis alam, termasuk praktik kehutanan, blue carbon, pertanian restoratif, dan praktik kelautan.
6. Mengevaluasi dan Memperbaiki Strategi
Penting untuk terus mengevaluasi strategi dan target yang telah ditetapkan agar sejalan dengan perkembangan bisnis. Proses evaluasi dapat membantu Anda menemukan area yang perlu diperbaiki dan membuat keputusan berdasarkan data yang akurat.
Hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk menyusun target dan strategi dekarbonisasi untuk tahun-tahun yang akan datang.
Demikian informasi tentang strategi dekarbonisasi yang dapat dipelajari. Untuk mencegah memburuknya dampak perubahan iklim, seluruh lapisan masyarakat, baik dari individu maupun institusi, harus bergerak bersama-sama.
Titik net-zero harus menjadi tujuan dan target semua orang agar lingkungan tetap asri dan ekosistem di planet ini tetap terjaga.
Jika perusahaan Anda berencana untuk memasang panel surya sebagai salah satu langkah hijau, percayakan pada CDI dan KCE, #YourGrowthPartner! Konsultasikan kebutuhan energi Anda sekarang!
Baca juga: Potensi Energi Terbarukan di Indonesia yang Perlu Diketahui