ISPS Code adalah salah satu standar yang memastikan efisiensi dan keamanan proses operasional maritim di pelabuhan. Kode ini bukan sekadar regulasi, tetapi juga investasi terhadap keandalan proses operasional bisnis kelautan.
Artikel ini membahas ISPS Code, termasuk komponen-komponen dan tingkatannya. Untuk itu, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Apa Itu ISPS Code?
ISPS Code (International Ship and Port Facility Security Code) adalah standar yang dirilis oleh International Maritime Organization (IMO) untuk meregulasi operasi kelautan agar kru, kapal, pelabuhan, dan kargo tetap aman.
Kode ini memungkinkan perusahaan untuk berkoordinasi dan mencegah hal-hal yang dapat membahayakan keamanan maritim. Tujuan ISPS Code adalah melindungi kargo, kapal, dan tenaga kerja kapan pun terjadi ancaman.
Dapat dikatakan bahwa ISPS Code adalah panduan prosedur keamanan dan langkah mitigasi yang harus dipatuhi dan diikuti oleh pihak-pihak yang berkecimpung di sektor kepelabuhanan. Standar ini mengawasi proses operasional secara ketat untuk mengurangi risiko gangguan keamanan.
Indonesia sudah mengimplementasikan ISPS Code melalui Bab XI-2 tentang langkah-langkah khusus untuk meningkatkan keamanan maritim dalam Safety of Life at Sea (SOLAS).
Pemerintah kita juga menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 134 Tahun 2016 tentang Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan untuk mendukung implementasi ISPS Code. Dengan begitu, seluruh perusahaan di Indonesia yang terlibat dalam proses logistik maritim harus mematuhi ISPS Code dan kebijakan pendukungnya.
ISPS Code memiliki sejumlah peran dalam operasi kelautan, seperti:
- Mengeluarkan peran tetap untuk administrator lokal, perusahaan, dan pemerintah.
- Memantau aktivitas kargo dan kru.
- Mendeteksi ancaman dan menerapkan langkah-langkah strategis untuk menanganinya.
- Menyediakan tingkat keamanan bagi kapal.
- Mengumpulkan data ancaman keamanan maritim dan melakukan strategi untuk menghadapinya.
- Menerapkan tanggung jawab untuk pelabuhan, administrator lokal, dan tenaga kerja.
Lebih lanjut, siapakah yang harus memahami dan mematuhi ISPS Code? Kru dan awak kapal harus mengetahui tingkat keamanan untuk mengidentifikasi ancaman. Lalu, operator pelabuhan yang bertugas mengawasi, berkoordinasi, dan mengontrol akses kapal yang masuk ke area pelabuhan juga harus mematuhinya. Selanjutnya, perusahaan logistik dan pengiriman juga harus memahami ISPS Code untuk mengurus rute, waktu pengiriman, kepabeanan, dan asuransi.
Intinya, meskipun tidak semua orang berlalu-lalang di pelabuhan, selama mereka mengirimkan barang melalui jalur laut, ISPS Code akan memainkan peran yang signifikan dalam rantai pasok mereka.
Baca juga: Cargodoring: Pengertian, Fungsi dan Prosesnya di Pelabuhan
Mengapa ISPS Code Penting?
ISPS Code tidak hanya berfungsi untuk mematuhi standar internasional, tetapi juga untuk memastikan efisiensi dan keamanan proses operasional di laut. Berikut adalah beberapa alasan pentingnya ISPS Code:
1. Meningkatkan Keamanan
ISPS Code menyediakan kerangka kerja andal untuk melindungi fasilitas pelabuhan dan kapal dari ancaman. Hal ini termasuk perlindungan terhadap integrasi rantai pasok untuk mencegah disrupsi.
2. Beradaptasi dengan Tingkat Keamanan
ISPS Code mengatur prosedur dan protokol dalam menghadapi ancaman sesuai dengan tingkat keamanannya sehingga semua aspek operasional siap untuk meresponsnya.
3. Mematuhi Regulasi
Jika ada pihak yang gagal memenuhi regulasi yang diatur dalam ISPS Code, mereka dapat dikenai penalti. Tidak hanya itu, proses rantai pasok juga dapat terhambat. Di beberapa kasus, akses masuk ke pelabuhan berpotensi tertolak.
4. Menentukan Tanggung Jawab dan Peran
Standar ini menentukan peran dan tanggung jawab perusahaan kapal, perusahaan pelabuhan, administrator lokal, dan pemerintah. ISPS Code berlaku secara regional maupun internasional.
5. Mencegah Kerugian
Perusahaan dapat mencegah ancaman dan kecelakaan yang dapat berdampak pada kerugian operasional, seperti kerusakan fasilitas, kehilangan kargo, hingga pencurian.
Komponen ISPS Code
ISPS Code memiliki dua bagian utama, yaitu panduan untuk pemerintah, perusahaan pengiriman, dan otoritas pelabuhan, serta rekomendasi langkah-langkah keamanan. Berikut adalah rinciannya:
- Tiga tingkat keamanan utama: Terdiri atas level 1 (normal), level 2 (tinggi), dan level 3 (ancaman luar biasa).
- Port Facility Security Plan (PFSP): Prosedur keamanan untuk mengawasi akses personel, berkoordinasi dengan kapal yang masuk, dan memeriksa kargo.
- Ship Security Plan (SSP): Kapal harus memiliki rencana dan langkah keamanan dalam menghadapi ancaman. Hal ini termasuk pemantauan, kontrol akses, dan prosedur darurat.
- Peran dan tanggung jawab spesifik: Pihak-pihak yang bertanggung jawab atas rencana keamanan dan pelatihan ISPS Code, yaitu Ship Security Officer (SSO), Company Security Officer (CSO), dan Port Facility Security Officer (PFSO).
- Kontrol akses: Memantau dan mengatur siapa saja yang dapat keluar dan masuk ke area kerja.
Baca juga: 8 Perbedaan Logistik dan Ekspedisi serta Tips Memilihnya
3 Tingkat Keamanan Menurut ISPS Code
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ISPS Code mengatur tiga tingkat keamanan utama, yaitu level 1, 2, dan 3. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
Level 1
Level 1 adalah level paling rendah yang mendeskripsikan situasi keamanan normal di kapal dan pelabuhan. Meskipun normal, keamanan tetap harus dipertahankan dan setiap personel harus cepat tanggap dalam menghadapi potensi bahaya.
Level 2
Level 2 adalah level yang sudah ditingkatkan dan terjadi ketika terdapat risiko ancaman. Ketika tingkatan bahaya sudah naik ke level 2, personel yang bertugas akan memutuskan berapa lama harus memperketat keamanan.
Tidak hanya itu, sejumlah langkah keamanan akan dikerahkan di pelabuhan dan kapal selama level ini belum diturunkan menjadi level 1.
Level 3
Level 3 sudah termasuk ancaman luar biasa, di mana terdapat risiko keamanan yang membutuhkan langkah khusus untuk menanganinya.
Pada level ini, pihak berwenang mungkin akan bekerja sama dengan pemerintah untuk menghadapi situasi tersebut. Berbagai protokol yang lebih masif dan ketat juga dapat diterapkan.
Layanan Kepelabuhanan dan Penyimpanan Bahan Kimia dari CDI
ISPS Code adalah standar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses operasional kelautan.
Terkait ISPS Code, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) berkomitmen untuk menjalankan dan mematuhi panduan serta prosedur ISPS Code guna mendukung logistik laut yang aman dan efisien.
Untuk sektor kepelabuhan dan penyimpanan bahan kimia, anak usaha pada sektor kepelabuhanan dan penyimpanan bahan kimia, yaitu PT Redeco Petrolin Utama (RPU) menyediakan beberapa fasilitas, di antaranya:
- 2 dermaga dengan LOA masing-masing 200 meter untuk kapal 35.000 DWT dengan draft 10 meter.
- 70+ tangki dengan total kapasitas 125.000+ m³.
- Stasiun pengisian bahan bakar terpusat untuk berbagai jenis dan ukuran tanker.
- Sistem Customer Order Service (COS) untuk rencana pengambilan produk yang dibuat khusus.
- Standar internasional untuk menangani kebakaran dan mendukung keselamatan operasional, seperti oil boom untuk memproses tumpahan minyak.
Selain mematuhi regulasi yang berlaku, RPU juga sudah memegang sertifikasi ISO yang relevan sehingga semua proses operasional sesuai dengan standar.
Jadi, percayakan kebutuhan penyimpanan bahan kimia perusahaan Anda pada CDI dan RPU, #YourGrowthPartner!
Baca juga: Apa Itu Dermaga Jetty? Ini Pengertian, Fungsi, dan Jenisnya