Salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan modern adalah menjalankan operasional bisnis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Alhasil, banyak perusahaan mulai melakukan transisi energi melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Sebenarnya, apa itu transisi energi? Artikel ini akan mengajak Anda memahami definisi dan peran penting transisi energi serta contoh teknologi yang mendukung implementasinya. Mari simak hingga akhir.
Apa Itu Transisi Energi?
Transisi energi adalah pergeseran sistem energi global dari energi berbasis fosil ke energi bersih dan terbarukan. Contoh energi fosil adalah minyak dan batu bara. Contoh energi terbarukan adalah energi matahari dan angin.
Transisi energi merupakan bagian dari kesepakatan internasional untuk mencapai net-zero emissions pada tahun 2050 dan mencegah kenaikan suhu Bumi melebihi 1,5 °C.
Mengapa Transisi Energi Penting?
Sebelumnya telah disebutkan bahwa salah satu tujuan transisi energi adalah mencegah kenaikan suhu Bumi melebihi 1,5 °C. Penetapan batas maksimal ini bukan tanpa alasan.
Jika suhu tersebut terlampaui, dampak perubahan iklim akan semakin parah dan lebih sulit dikendalikan, termasuk gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Salah satu strategi penting untuk mencegah dampak tersebut adalah transisi energi.
Agar dapat mencapai target global pada 2030, kapasitas energi terbarukan dunia perlu tumbuh rata-rata sekitar 16,6% per tahun. Laju pertumbuhan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas energi terbarukan global hingga tiga kali lipat pada 2030.
Kenyataannya, meskipun penggunaan energi terbarukan terus meningkat, laju pertumbuhannya masih jauh dari target. IRENA mencatat pada 2024 bahwa pertumbuhan di Amerika Selatan baru menyentuh angka 7,8%, Amerika Utara 8,7%, dan Afrika 6,7%. Adapun Asia mencatat kapasitas energi terbarukan tertinggi dengan pertumbuhan sebesar 21,5%.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya penting, tetapi juga harus diimplementasikan lebih cepat untuk mencegah kerusakan yang semakin parah.
Baca juga: Efisiensi Energi: Pengertian, Manfaat, dan Cara Melakukannya
Hubungan Transisi Energi dan Energi Terbarukan
Transisi energi dan energi terbarukan memiliki hubungan yang erat. Transisi energi ibarat sebuah perjalanan menuju tujuan keberlanjutan, sedangkan energi terbarukan menjadi salah satu kendaraan utama untuk mencapainya.
Maka, tak heran jika kini transisi energi lebih banyak berfokus pada pengembangan potensi energi terbarukan.
Mayoritas sumber energi terbarukan menghasilkan emisi yang sangat rendah atau bahkan tidak menghasilkan emisi karbon maupun gas rumah kaca lainnya saat digunakan.
Hal ini berbeda dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang melibatkan pembakaran dan pelepasan karbon dioksida ke atmosfer.
Peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan mendukung percepatan dekarbonisasi, yaitu upaya untuk mengurangi atau menghilangkan emisi karbon dari aktivitas manusia.
Lebih lanjut, dekarbonisasi membantu mencapai target net-zero emissions yang menjadi salah satu tujuan utama transisi energi.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa energi terbarukan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan transisi energi.
Baca juga: Sustainable Reports Terbaru PT Chandra Daya Investasi Tbk
Macam-Macam Energi Terbarukan yang Mendukung Transisi Energi
Transisi energi bisa berjalan dengan dukungan beberapa energi berikut:
1. Energi Surya
Energi surya adalah energi yang dihasilkan dari sinar atau radiasi Matahari. Energi ini bisa didapatkan melalui dua cara, yaitu:
- Solar Photovoltaics (PV): Panel surya menangkap cahaya matahari, lalu sel surya di dalam panel mengubahnya secara langsung menjadi arus listrik. Teknologi PV biasanya ditemukan di atap rumah, gedung, ataupun ladang luas.
- Concentrated Solar-Thermal Power (CSP): Cermin khusus memusatkan sinar matahari ke satu titik, lalu menghasilkan panas. Selanjutnya, panas tersebut digunakan untuk memanaskan fluida. Kemudian, uap dari fluida menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik perusahaan Anda, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI), melalui anak usahanya, PT Krakatau Chandra Energi (KCE), siap menjadi #YourGrowthPartner dengan solusi energi terbarukan berbasis panel surya.
Pada tahun 2025, total kapasitas tenaga surya yang dikelola oleh KCE telah berkembang pesat menjadi 11 MWp. Kini, KCE melayani 200+ pelanggan dari sektor industri, bisnis, sosial, hingga pemerintahan, serta 1.500+ pelanggan rumah tangga.
Terdapat empat mekanisme instalasi panel surya, yaitu On Grid, Off Grid, On Grid with Battery Backup, dan Hybrid.
Lebih lanjut, CDI dianugerahi penghargaan sebagai “Penyedia Energi Sektor Swasta dalam Transisi Energi” oleh Dewan Energi Nasional pada tahun 2023. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas kontribusi dan kepemimpinan CDI dalam mendukung transisi energi di Indonesia.
2. Energi Air
Seperti namanya, energi air memanfaatkan pergerakan air untuk menghasilkan listrik. Energi air bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari sungai, waduk, bendungan, hingga laut.
Cara kerjanya dimulai dari aliran air dengan kecepatan tertentu. Aliran tersebut memutar turbin yang terhubung dengan generator. Selanjutnya, putaran turbin akan menghasilkan energi mekanik yang kemudian diubah oleh generator menjadi energi listrik.
3. Energi Angin
Jenis energi terbarukan lain yang mendukung transisi energi adalah energi angin. Energi ini diperoleh dari hembusan angin yang menggerakkan baling-baling turbin.
Putaran baling-baling kemudian memutar poros turbin yang terhubung dengan generator. Pada akhirnya, generator mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Besarnya listrik yang dihasilkan ditentukan oleh ukuran dan kapasitas turbin yang digunakan.
4. Energi Laut
Lebih dari 70% permukaan Bumi diselimuti oleh lautan. Hal ini menunjukkan bahwa laut dapat menjadi sumber listrik dalam jumlah besar.
Energi laut memanfaatkan fenomena alam yang terjadi di lautan, baik berupa gerakan maupun sifat fisiknya. Sumbernya beragam, mulai dari ombak, pasang surut air, arus laut, gradien salinitas, hingga perbedaan temperatur.
Baca juga: Instalasi Listrik Industrial: Pengertian dan Komponennya
Teknologi yang Dapat Mendukung Transisi Energi
Berikut adalah contoh teknologi yang mendukung transisi energi terbarukan:
1. Kendaraan Listrik
Selain menggantikan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar, kendaraan listrik juga mendukung transisi energi terbarukan melalui fungsi penyimpanan energi yang dimilikinya.
EV menggunakan teknologi vehicle-to-grid, yaitu baterai yang bisa menyimpan kelebihan listrik dan menyalurkannya kembali ke jaringan saat diperlukan. Dengan teknologi ini, pasokan listrik menjadi lebih stabil.
Chandra Asri Group, sebagai perusahaan yang menaungi CDI, menghadirkan inovasi kendaraan listrik, khususnya bus listrik untuk antar-jemput karyawan. Bus listrik ini diperkirakan dapat mengurangi konsumsi solar hingga 20.800 liter per tahun atau setara dengan mereduksi emisi hingga 28,52 ton CO2e per tahun.
2. Smart Grid
Smart grid merupakan jaringan listrik pintar yang memanfaatkan teknologi digital, sensor, dan komunikasi data untuk mengatur distribusi listrik secara real-time.
Cara kerja smart grid dimulai saat smart meter dan sensor mengumpulkan data konsumsi energi serta kondisi jaringan listrik. Data tersebut dikirimkan ke pusat kontrol dan dianalisis untuk menentukan kebutuhan yang paling efisien.
Kemudian, sistem kontrol akan mengatur aliran listrik sesuai kebutuhan. Sistem juga bisa merespons gangguan secara otomatis, mengalihkan pasokan listrik ke jalur lain, dan mendukung penyimpanan energi yang bisa digunakan saat permintaan meningkat.
Sekian informasi tentang transisi energi yang perlu menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pelaku usaha. Dengan memaksimalkan potensi energi terbarukan di Indonesia yang sangat besar, transisi energi dapat membantu mencapai target net-zero emissions pada 2050.
Jika perusahaan Anda ingin berkontribusi dan membutuhkan solusi energi yang andal, efisien, serta berkelanjutan, percayakan kepada CDI dan KCE!
Baca juga: Apa Itu Captive Power Plant? Ini Manfaat dan Jenisnya