Dalam pembangunan fasilitas industri dan pengembangan operasional bisnis, pasokan air yang stabil menjadi elemen esensial karena dapat mendukung kelancaran produksi dan menjaga distribusi tetap terkontrol.
Di sinilah pentingnya peran reservoir air. Infrastruktur air ini bukan sekadar tempat penampungan biasa, melainkan juga mendukung efisiensi manajemen utilitas serta ekspansi bisnis. Untuk memahami jenis dan cara membuat reservoir air, simak penjelasan lengkapnya di sini.
Apa Itu Reservoir Air?
Reservoir air adalah struktur buatan yang berfungsi untuk menampung dan menyimpan air dalam jumlah besar guna meningkatkan ketahanan air masyarakat. Struktur ini dapat berbentuk bendungan pada badan air alami ataupun cekungan buatan di dataran rendah yang diisi oleh air hujan atau aliran sungai yang dialihkan.
Reservoir air menjadi bagian penting dalam sistem penyediaan air di berbagai negara, terutama di wilayah dengan musim kemarau panjang dan curah hujan yang tak menentu.
Saat terjadi kekeringan panjang, air di reservoir dilepaskan secara bertahap guna memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti penyediaan air minum dan operasional industri. Sebaliknya, saat debit air tinggi, reservoir mampu menyimpan cadangan air dan mengurangi risiko banjir.
Jenis Reservoir Air
Berdasarkan lokasinya terhadap aliran sungai, reservoir air dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Reservoir On-Stream
Reservoir on-stream atau impoundment adalah reservoir yang terbentuk saat bendungan dibangun melintasi sungai. Ukurannya relatif besar dan paling umum digunakan. Contoh reservoir on-stream adalah Lake Diefenbaker di Saskatchewan, Kanada.
2. Reservoir Off-Stream
Berkebalikan dengan jenis sebelumnya, reservoir off-stream tidak berada langsung di jalur aliran sungai. Artinya, area reservoir ini terpisah dari sungai utama.
Reservoir off-stream dibentuk menggunakan tanggul atau dinding kedap air yang mengelilingi sebagian atau seluruh area reservoir. Salah satu contohnya adalah Springbank Off-Stream Reservoir di Alberta, Kanada.
Baca juga: Instalasi Pengolahan Air. Ini Fungsi dan Cara Kerjanya!
Cara Membuat Reservoir Air
Terlebih dahulu, perlu dipahami bahwa lokasi reservoir air harus memenuhi beberapa kriteria. Pertama, terdapat sumber air yang memadai, bisa dari sungai, hujan, ataupun aliran daerah tangkapan air.
Kedua, dampak lingkungan harus diminimalkan, seperti relokasi penduduk dan perubahan ekosistem. Ketiga, lokasi harus luas dan memiliki elevasi yang cukup tinggi agar air dapat mengalir dengan baik dan distribusi lebih mudah.
Jika ketiganya telah terpenuhi, proses pembuatan reservoir air akan melalui tahap-tahap berikut:
1. Pengalihan Aliran Air
Tahap pertama dalam pembuatan reservoir sebenarnya adalah pembangunan bendungan yang berfungsi untuk menahan aliran air dan menciptakan area genangan.
Namun, untuk membangun bendungan, aliran air seperti sungai atau anak sungai perlu dialihkan sementara waktu. Tujuannya untuk menciptakan area konstruksi yang kering dan mempermudah pekerjaan teknik.
Meskipun demikian, pengalihan total tidak bisa dilakukan jika bendungan dibangun di sungai besar. Solusinya adalah mengeringkan sebagian area sungai untuk pembangunan, sementara area lain tetap dialiri air. Kedua hal ini dilakukan bergantian hingga bendungan selesai dibangun.
2. Pembangunan Fondasi Bendungan
Pada tahap ini, ada perbedaan antara reservoir on-stream dan off-stream. Pada on-stream, fondasi baru disiapkan setelah sungai dialihkan. Adapun off-stream, fondasi bisa langsung disiapkan.
Tahapan ini dimulai dengan menggali fondasi untuk membuang tanah lunak, lumpur, sedimen, akar tanaman, dan vegetasi. Penggalian dilakukan hingga mencapai bedrock, yaitu lapisan batuan keras alami di bawah tanah. Berhubung strukturnya stabil dan mampu mengurangi risiko penurunan tanah, fondasi harus berdiri langsung di atasnya.
Jika bendungan menggunakan dinding lembah sebagai bagian dari struktur, bagian dinding yang tidak stabil harus dibuang untuk memastikan batuan benar-benar kuat, kaku, dan tidak mudah ditembus air.
Setelah bedrock terlihat, lakukan pemeriksaan untuk mencari patahan dan rongga. Apabila ditemukan rongga kecil, bisa diisi dengan grout, yaitu campuran semen cair yang dimasukkan ke celah batuan. Sementara jika terdapat rongga besar, bisa diisi dengan beton.
Kedua metode tersebut dilakukan agar batuan semakin kuat dan mampu menutup jalur rembesan air. Selanjutnya, permukaan fondasi bendungan dibasahi dan dipadatkan menggunakan roller.
Pada bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sering kali ada intake tower, yakni menara yang digunakan untuk mengontrol suplai air. Jika ada intake tower, perlu dilakukan pemasangan rock bolts di bawahnya dan dibangun fondasi beton besar.
Rock bolts adalah batang baja panjang yang ditanam ke dalam batuan dan berfungsi mengikat struktur ke batuan dasar agar tidak bergeser.
Baca juga: Air Limbah Domestik: Kenali Jenis dan Bagaimana Mengelolanya
3. Pemasangan Dinding Beton Bendungan
Setelah fondasi selesai dibangun, dinding beton bendungan bisa mulai dipasang. Dinding beton berfungsi untuk menahan tekanan air reservoir dan mengontrol aliran air.
Selanjutnya, dinding dilapisi dengan pelindung (coating) untuk mencegah kerusakan. Coating harus berdaya rekat tinggi, memungkinkan uap air keluar dari beton, mampu menahan tekanan air yang besar, dan tahan terhadap kandungan kimia dalam air.
Pada umumnya, coating yang digunakan terbuat dari bahan acrylic, epoxy, polyurethane, atau crystalline waterproofing.
4. Pengembalian Aliran Air
Setelah semua struktur bendungan terpasang, area yang nantinya tergenang air harus diperiksa dulu guna memastikan tidak ada hal yang berpotensi mencemari air, baik sampah maupun puing-puing.
Jika area sudah bersih, aliran air bisa mulai dikembalikan menuju reservoir. Untuk reservoir on-stream, air biasanya sudah mulai terkumpul di belakang bendungan. Namun, pada reservoir off-stream, air harus dialihkan, dipompa, atau disalurkan melalui pipa.
Percayakan Pengolahan Air Industri pada Chandra Daya Investasi!
Air baku harus melalui pengolahan terlebih dahulu agar layak digunakan. Chandra Daya Investasi melalui perusahaan afiliasinya, yaitu Krakatau Tirta Industri (KTI), menawarkan solusi pengolahan air bersih yang layak diaplikasikan pada proses manufaktur.
Dengan pengalaman operasional selama puluhan tahun, KTI telah banyak dipercaya dalam penyediaan pasokan air bersih untuk keperluan berbagai industri. Unit pengolahan air bersih KTI memanfaatkan sumber air dari Sungai Cidanau, Sungai Cipasauran, dan Waduk Nadra Krenceng.
Untuk mengolah air dari sumber-sumber tersebut, KTI mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Krenceng dan Cidanau. IPA Krenceng mempunyai kapasitas 1.800 liter per detik. Adapun IPA Cidanau memiliki tiga unit pompa intake, masing-masing berkapasitas 600 liter per detik.
Jadi, tertarik mengolah air dari reservoir untuk keperluan perusahaan Anda? Percayakan kebutuhan pengolahan reservoir air bersih industri kepada Krakatau Tirta Industri dan Chandra Daya Investasi sebagai #YourGrowthPartner.
Baca juga: Pengolahan Air Bersih untuk Industri: Metode dan Tahapannya