Efisiensi operasional menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam mengelola distribusi barang. Proses distribusi yang berjalan tepat waktu dapat membantu menekan biaya sekaligus menjaga kelancaran rantai pasok.
Untuk mewujudkan pendistribusian yang optimal, Anda perlu memahami dwell time logistik serta kaitannya dengan proses cargodoring di pelabuhan. Simak pembahasan berikut untuk mengetahui penyebab, dampak, serta strategi untuk mengoptimalkannya.
Mengapa Dwell Time yang Panjang dalam Logistik dapat Terjadi?
Sebelum memahami penyebabnya, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan dwell time logistik. Dwell time adalah durasi peti kemas berada di terminal pelabuhan sejak selesai dibongkar dari kapal hingga keluar menuju gudang atau lokasi tujuan.
Selama periode tersebut, peti kemas akan melalui beberapa tahapan, mulai dari proses bongkar muat, pemeriksaan dokumen dan kepabeanan, hingga pengeluaran barang dari terminal.
Dalam operasional logistik, dwell time menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur efisiensi pelabuhan dan kelancaran rantai pasok. Semakin singkat dwell time, semakin cepat barang dapat didistribusikan ke lokasi tujuan sehingga biaya logistik dapat ditekan.
Periode dwell time dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari proses internal perusahaan maupun dari operasional di pelabuhan. Berikut beberapa penyebab yang paling umum:
- Proses administrasi dan kepabeanan yang lambat.
- Dokumen impor atau ekspor tidak lengkap atau tidak sesuai.
- Pemeriksaan fisik barang oleh otoritas memerlukan waktu lebih lama.
- Tingginya volume peti kemas menyebabkan kepadatan di terminal pelabuhan.
- Keterbatasan kapasitas infrastruktur pelabuhan, seperti alat bongkar muat dan area penumpukan.
- Gangguan operasional akibat cuaca ekstrem atau kondisi force majeure.
- Keterbatasan armada transportasi darat untuk mengangkut kontainer keluar pelabuhan.
- Koordinasi yang kurang optimal antara perusahaan pelayaran, operator terminal, perusahaan logistik, dan pemilik barang.
- Pemanfaatan sistem digital dan pertukaran data yang belum terintegrasi menyebabkan proses operasional menjadi lebih lambat.
Baca juga: Cold Chain: Komponen, Proses, dan Manfaatnya
Tahapan dalam Proses Dwell Time
Setiap peti kemas yang tiba di pelabuhan tidak dapat langsung didistribusikan ke lokasi tujuan. Sebelum keluar dari terminal, peti kemas harus melalui tiga tahapan dalam proses dwell time, yaitu pre-clearance, customs clearance, dan post-clearance. Berikut penjelasannya:
1. Pre-clearance
Pre-clearance adalah tahap sejak peti kemas selesai dibongkar dari kapal hingga importir atau pihak yang ditunjuk mengajukan dokumen kepabeanan kepada otoritas terkait.
Pada tahap pre-clearance, perusahaan perlu menyiapkan berbagai dokumen impor, seperti pemberitahuan impor barang, invoice, packing list, serta dokumen pendukung lainnya.
Apabila dokumen belum lengkap atau terdapat kesalahan administrasi, proses berikutnya dapat tertunda sehingga dwell time secara keseluruhan menjadi lebih panjang.
2. Customs Clearance
Setelah melalui tahap pre-clearance, peti kemas akan memasuki proses customs clearance, yaitu tahap pemeriksaan dan penyelesaian kewajiban kepabeanan oleh otoritas bea cukai.
Pada tahap ini, petugas akan memverifikasi dokumen, melakukan pemeriksaan fisik barang apabila diperlukan, serta memastikan seluruh kewajiban, seperti bea masuk dan pajak, telah dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Post-clearance
Post-clearance adalah tahap setelah diterbitkannya Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) hingga peti kemas keluar (gate out) dari terminal pelabuhan. Pada tahap ini, peti kemas akan diambil dari terminal lalu diangkut menggunakan truk menuju gudang, pabrik, atau lokasi tujuan.
Meski sudah memperoleh izin dari Bea Cukai, peti kemas belum tentu langsung keluar dari terminal. Keterbatasan armada logistik, antrean kendaraan di pelabuhan, atau kurangnya koordinasi antara pemilik barang, perusahaan logistik, dan operator pelabuhan dapat menyebabkan proses pengambilan kontainer tertunda. Akibatnya, dwell time menjadi lebih panjang dan biaya logistik perusahaan meningkat.
Apa yang Terjadi Jika Dwell Time Terlalu Lama?
Dwell time yang melebihi durasi ideal dapat menghambat kelancaran arus barang dan menurunkan efisiensi operasional perusahaan. Berikut adalah beberapa dampak yang mungkin timbul akibat durasi dwell time yang terlalu lama:
- Biaya logistik meningkat: Semakin lama peti kemas berada di terminal, semakin besar biaya yang harus ditanggung perusahaan, seperti biaya penumpukan, demurrage (biaya yang dikenakan ketika peti kemas masih berada di terminal melebihi masa free time), serta biaya detention (biaya keterlambatan pengembalian peti kemas kosong kepada perusahaan pelayaran).
- Distribusi barang menjadi terlambat: Keterlambatan pengeluaran kontainer dari pelabuhan membuat jadwal pengiriman ke gudang, pabrik, atau pelanggan ikut mundur. Hal ini dapat mengganggu kelancaran aktivitas distribusi.
- Produktivitas pelabuhan menurun: Kontainer yang terlalu lama menumpuk mengurangi kapasitas terminal untuk menerima dan menangani peti kemas baru, sehingga proses bongkar muat menjadi kurang efisien.
- Risiko keterlambatan proyek atau produksi meningkat: Bagi sektor manufaktur, energi, konstruksi, maupun industri proses, keterlambatan kedatangan material atau peralatan dapat menghambat jadwal proyek dan menurunkan produktivitas operasional.
- Cash flow perusahaan terganggu: Meningkatnya biaya logistik dan tertundanya distribusi barang dapat memengaruhi arus kas perusahaan, terutama jika modal kerja tertahan untuk menutupi biaya operasional yang tidak terencana.
Baca juga: Ship Chartering: Proses, Jenis, dan Perannya dalam Bisnis
Strategi Mengoptimalkan Dwell Time
Untuk mengurangi dwell time, diperlukan koordinasi yang baik antara pemilik barang, penyedia jasa logistik, operator pelabuhan, dan otoritas kepabeanan. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pihak-pihak yang terlibat untuk mempercepat arus barang sekaligus meningkatkan efisiensi operasional:
1. Menyiapkan Dokumen Sebelum Tiba di Pelabuhan
Pemilik barang atau pihak yang ditunjuk, seperti Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK), perlu memastikan seluruh dokumen impor maupun ekspor telah lengkap dan sesuai dengan ketentuan sebelum peti kemas tiba di pelabuhan. Langkah ini membantu mengurangi potensi keterlambatan akibat kesalahan administrasi atau dokumen yang belum lengkap.
2. Mengatur Sistem Penjadwalan
Selain dokumen, pemilik barang, penyedia jasa logistik, dan operator pelabuhan juga dapat menyusun jadwal pengambilan kontainer, ketersediaan armada, hingga distribusi barang secara terencana. Dengan penjadwalan yang baik, peti kemas dapat segera keluar dari terminal tanpa harus menunggu terlalu lama di pelabuhan.
3. Mengajukan Customs Clearance Secepat Mungkin
Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam dwell time adalah pengajuan clearance ke customs yang perlu dilakukan oleh pemilik barang atau PPJK. Pengajuan customs clearance sebaiknya diproses sesegera mungkin agar verifikasi dokumen dan pemeriksaan Bea Cukai dapat dimulai lebih awal. Dengan begitu, peti kemas dapat segera memperoleh izin keluar dari terminal apabila seluruh persyaratan telah dipenuhi.
4. Menerapkan Digitalisasi dan Otomatisasi
Operator pelabuhan dan penyedia jasa logistik dapat memanfaatkan sistem digital untuk mengelola dokumen, melacak posisi kontainer secara real-time, serta mempercepat pertukaran data dengan seluruh pihak yang terlibat dalam proses logistik.
Dengan digitalisasi dan otomatisasi, proses administrasi menjadi lebih cepat, risiko kesalahan input data pun dapat diminimalkan, dan pengambilan keputusan operasional pun menjadi lebih efisien.
5. Meningkatkan Optimasi Manajemen Dermaga
Bagi operator pelabuhan, efisiensi operasional di dermaga juga berperan penting dalam menekan dwell time. Pengelolaan kapasitas terminal, pengaturan arus kendaraan, serta penggunaan peralatan bongkar muat secara optimal dapat mempercepat perpindahan peti kemas dari kapal hingga keluar dari pelabuhan.
Solusi Logistik Bahan Kimia Terintegrasi dan Tepercaya dari CDI
Mengelola dwell time logistik secara efektif memerlukan dukungan mitra logistik yang berpengalaman dan memiliki layanan terintegrasi, mulai dari transportasi, pergudangan, hingga pengurusan kepabeanan.
Dengan sistem logistik yang terkoordinasi, perusahaan dapat mempercepat pergerakan barang, mengurangi potensi keterlambatan, serta menjaga efisiensi rantai pasok agar operasional bisnis tetap berjalan optimal.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) menghadirkan solusi logistik darat dan laut melalui jaringan anak usahanya.
Untuk kebutuhan logistik laut, PT Chandra Shipping International (CSI) sebagai anak usaha CDI mengoperasikan 10+ kapal pengangkut LPG dan bahan kimia dengan kapasitas sekitar 4.200–9.600 DWT sehingga mampu mendukung distribusi barang Anda secara aman.
Sementara itu, pada sektor logistik darat, PT SCG Barito Logistics (SBL) menyediakan layanan transportasi antarpulau, angkutan laut, ekspor-impor, pengurusan kepabeanan, hingga manajemen pergudangan dengan dukungan 200+ unit armada truk.
Untuk kebutuhan penyimpanan, PT Chandra Cold Chain (CCC) dilengkapi fasilitas cold storage modern berkapasitas 700+ pallet positions, sedangkan PT Chandra Warehouse Cilegon (CWC) mengelola kawasan pergudangan seluas 51K+ m² di Cilegon untuk mendukung kebutuhan penyimpanan berbagai jenis barang industri.
CDI siap menjadi #YourGrowthPartner dalam membangun rantai pasok yang lebih efisien, andal, dan berkelanjutan. Dengan dukungan jaringan logistik yang terintegrasi dan infrastruktur yang memadai, percayakan kebutuhan logistik perusahaan Anda kepada CDI.
Baca juga: Armada Logistik, Jenis dan Fungsinya untuk Bisnis