Kondisi muatan kapal selalu berubah-ubah. Ketika kapal kosong atau muatannya sedikit, kapal menjadi sangat ringan sehingga keseimbangannya dapat terganggu. Di sinilah diperlukan proses ballasting.
Ballasting adalah mekanisme penting yang dijalankan oleh hampir semua jenis kapal, mulai dari kapal kargo, kapal penumpang, kapal LPG, hingga kapal tanker.
Artikel ini akan membahas ballasting secara lebih mendalam, mulai dari pengertian, mekanisme kerja, hingga penerapannya dalam operasional kapal. Simak penjelasannya sampai akhir!
Apa Itu Ballasting?
Ballasting adalah proses memasukkan air laut ke dalam tangki ballast kapal agar berat kapal bertambah dan tetap stabil, terutama saat tidak membawa muatan. Ship ballasting merupakan bagian yang penting dalam operasional kapal karena bisa membantu:
- Menjaga stabilitas kapal.
- Mendukung manuver dan menjaga efisiensi propeler (baling-baling kapal).
- Mengatur trim (kemiringan longitudinal) dan list (kemiringan transversal) kapal.
- Menjaga keamanan kapal saat cuaca buruk.
Sistem ballast terdiri dari tangki penyimpan air, pompa yang mengalirkan air laut ke tangki, pipa dan katup yang mengalirkan air ke tangki yang sesuai, serta sistem kontrol otomatis untuk memantau dan mengatur distribusi air.
Cara Kerja Ballasting
Ship ballasting bekerja berdasarkan prinsip buoyancy, yaitu gaya yang membuat benda dapat mengapung di air. Agar posisi kapal stabil, beratnya harus seimbang dan distribusi beratnya harus tepat. Di sinilah ballasting bekerja. Berikut cara kerja ballasting:
1. Pengisian Tangki Ballast dengan Air Laut
Ballasting adalah proses memasukkan air laut ke tangki ballast berdasarkan evaluasi kebutuhan volume air yang dibutuhkan kapal. Caranya adalah dengan mengambil air laut melalui sea chest, yaitu ruang khusus di bagian bawah atau samping lambung kapal.
Selanjutnya, pompa akan mengalirkan air ke dalam pipa. Katup membuka jalur ke tangki tertentu hingga tangki ballast terisi air.
Selama proses pengambilan air ini, petugas harus aktif memantau volume air, posisi tangki, dan draft (seberapa dalam kapal terendam). Jika pengisiannya tidak seimbang, kapal berisiko miring ke salah satu sisi. Risiko lain adalah bagian depan atau belakang kapal menjadi terlalu rendah.
2. Perpindahan Air Ballast Antartangki
Tangki ballast berada di beberapa lokasi kapal, antara lain bagian kiri (port side), kanan (starboard), depan (fore), dan belakang (aft).
Terkadang, kapal tidak perlu menambah air, melainkan hanya memindahkan air antartangki. Misalnya, jika kapal miring ke kiri, sebagian air perlu dipindahkan ke tangki kanan agar distribusi beratnya seimbang.
Proses pemindahan ini melibatkan pompa, jaringan pipa, dan katup pengatur aliran. Pemindahan air antartangki dapat membantu kapal menyesuaikan draft dan trim.
Baca juga: Tangki Bitumen: Kenali Komponen, Fungsi, dan Jenisnya
3. Pengolahan dan Pertukaran Air Ballast
Air ballast yang diambil dari wilayah laut tertentu berpotensi membawa organisme asing, bakteri, lumpur, dan sedimen ke dalam kapal. Elemen-elemen tersebut dapat menumpuk kotoran pada tangki ballast. Jika dibuang di wilayah laut lain, ekosistem laut juga bisa terganggu.
Kapal perlu melakukan Ballast Water Exchange (BWE). Metode ini dilakukan dengan membuang air ballast lama yang diambil dari pelabuhan asal, kemudian menggantinya dengan air laut terbuka.
Air laut terbuka umumnya memiliki kandungan sedimen, lumpur, dan organisme pesisir yang lebih rendah dibandingkan dengan air di wilayah pelabuhan atau pantai. Meskipun tetap mengandung mikroorganisme dan plankton laut, risiko ekologisnya dinilai lebih rendah daripada organisme dari perairan pesisir.
4. Monitoring dan Pencatatan
Semua operasi ballast harus dicatat dalam Ballast Water Record Book. Hal-hal yang perlu dicatat adalah lokasi pengambilan air, volume air ballast, tanggal dan waktu, treatment yang digunakan, dan kondisi air.
Pencatatan ini bertujuan untuk mematuhi regulasi internasional yang ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO). Selain itu, catatan juga akan digunakan untuk keperluan audit.
Ballasting dan Deballasting, Apa Bedanya?
Di samping ballasting, ada pula deballasting yang merupakan proses mengeluarkan air dari tangki ballast kapal. Berikut perbedaan ballasting dan deballasting yang perlu diketahui:
- Tujuan: Ballasting ditujukan untuk menambah berat kapal, sedangkan tujuan deballasting adalah mengurangi beratnya.
- Waktu: Ballasting dilakukan saat kapal kosong atau ringan. Adapun deballasting dilakukan saat kapal mulai membawa muatan.
- Dampak pada draft: Ballasting membuat draft bertambah, sedangkan deballasting membuat draft berkurang.
Baca juga: 7 Kelebihan Pengiriman Kapal Laut yang Perlu Diketahui
Kapan Kapal Harus Melakukan Ballasting dan Deballasting?
Berikut ini sejumlah kondisi yang umumnya mengharuskan proses ballasting atau deballasting:
1. Saat Memasuki Pelabuhan, Kanal, atau Perairan Dangkal
Beberapa pelabuhan dan kanal memiliki batas draft sehingga kapal yang akan melintas harus memenuhi ketentuan terkait batas tersebut.
Untuk melewati perairan dangkal dengan aman, draft kapal perlu dikurangi melalui mekanisme deballasting. Namun, jika posisi kapal terlalu tinggi dan dinilai kurang stabil, draft dapat ditingkatkan melalui mekanisme ballasting.
2. Saat Cuaca Buruk
Saat berlayar tanpa muatan penuh, terutama pada kondisi cuaca buruk dan ombak besar, pergerakan kapal bisa lebih ekstrem dan lebih mudah mengalami pitching (gerakan naik turun dari depan ke belakang).
Jika kapal mengalami pitching berlebihan, bagian belakang (stern) bisa terangkat terlalu tinggi hingga propeler keluar dari air dan berputar terlalu cepat. Kondisi ini berbahaya karena bisa menimbulkan getaran ekstrem dan mengurangi kontrol kapal.
Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan emergency heavy weather ballasting atau memompa air ballast ke bagian belakang kapal, biasanya ke tangki stern atau cargo tank tertentu. Tujuannya adalah meningkatkan draft stern dan membuat propeler tetap terendam dalam air sehingga kapal lebih stabil.
Perlu diketahui, emergency heavy weather ballasting merupakan salah satu penerapan offshore ballasting yang digunakan untuk menjaga stabilitas kapal di tengah kondisi laut yang ekstrem.
3. Saat Bongkar Muat di Pelabuhan
Proses bongkar muat kargo di pelabuhan membuat berat kapal berubah. Saat kargo masuk, berat kapal bertambah dan draft meningkat. Dalam situasi ini, perlu dilakukan deballasting untuk mengurangi berat tambahan dan mencegah kapal tenggelam terlalu dalam.
Sebaliknya, saat kargo dibongkar, kapal menjadi lebih ringan dan posisinya bisa terlalu tinggi di air. Maka dari itu, perlu dilakukan ballasting untuk mengganti berat kargo yang hilang dan menjaga stabilitas kapal.
Solusi Kepelabuhanan Andal dari CDI
Ballasting adalah mekanisme penting yang berhubungan erat dengan aktivitas kepelabuhanan, terutama saat bongkar muat kargo sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Ballasting menjadi salah satu cara perusahaan untuk memastikan kelancaran dan efisiensi aktivitas kepelabuhanan.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) melalui PT Redeco Petrolin Utama (RPU) menghadirkan solusi kepelabuhanan dan penyimpanan yang andal. Layanan ini mencakup penyediaan dermaga dan fasilitas penyimpanan bahan baku petrokimia, secara spesifik untuk bongkar muat minyak dan LPG.
Saat ini, RPU memiliki dua dermaga dengan panjang masing-masing 200 meter yang mampu melayani kapal hingga 35.000 DWT dengan draft 10 meter serta 72 tangki dengan total kapasitas 130.000 m3.
Sejumlah aset penting turut melengkapi layanan ini, di antaranya stasiun pengisian bahan bakar kapal tanker, oil boom, dan sistem Customer Order Service (COS).
Bersama CDI dan RPU sebagai #YourGrowthPartner, mari efisienkan operasional kepelabuhanan bisnis Anda.
Baca juga: Oil Boom: Pengertian, Jenis, dan Cara Menggunakannya