Air menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebutuhan minum, memasak, hingga berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. Mengingat pentingnya air bagi makhluk hidup, kondisi air perlu dipastikan tetap aman dan tidak tercemar.
Upaya menjaga kualitas air juga berkaitan dengan penerapan pengolahan air limbah industri untuk memastikan air tidak tercampur dengan berbagai zat yang dapat menurunkan kualitasnya.
Melalui beberapa parameter kualitas air, kondisi air dapat dianalisis dari berbagai sisi, seperti sifat fisik, kimia, maupun biologis. Untuk mengetahui macam-macam parameter kualitas air, simak artikel ini sampai selesai.
Macam-Macam Parameter Kualitas Air
Penilaian kualitas air dilakukan dengan melihat beberapa indikator yang menunjukkan kondisi air secara menyeluruh. Indikator tersebut membantu menggambarkan apakah air masih dalam kondisi baik atau sudah mengalami perubahan.
Bahkan, peneliti dari Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa 10 dari 34 provinsi di Indonesia pada 2022 masih memiliki indeks kualitas air yang tergolong buruk karena berbagai kontaminasi. Secara umum, parameter kualitas air dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan jenis pengujiannya, yaitu:
1. Fisika
Parameter kualitas air secara fisika berkaitan dengan kondisi air yang dapat diamati secara langsung. Beberapa indikator yang termasuk dalam parameter fisika kualitas air adalah sebagai berikut:
a. Suhu
Suhu air berperan dalam menentukan kondisi air dan lingkungan di dalamnya. Perubahan suhu dapat memengaruhi banyak hal, termasuk kemampuan air melarutkan berbagai zat yang ada di dalamnya.
Jika suhu air terlalu tinggi atau terlalu rendah, organisme yang hidup di dalam air bisa terganggu. Dalam kondisi tertentu, perubahan suhu yang ekstrem bahkan dapat menyebabkan organisme air mati dan merusak keseimbangan ekosistem perairan.
b. Konduktivitas
Konduktivitas menunjukkan kemampuan air dalam menghantarkan aliran listrik. Kemampuan ini biasanya dipengaruhi oleh jumlah zat terlarut yang ada di dalam air, seperti garam atau mineral.
Semakin banyak zat terlarut di dalam air, nilai konduktivitasnya akan semakin tinggi. Jika nilainya terlalu tinggi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya zat tertentu atau kemungkinan pencemaran di dalam air.
c. Kekeruhan
Kekeruhan menunjukkan banyaknya partikel kecil yang terdapat di dalam air. Partikel tersebut bisa berupa zat padat yang tercampur dan membuat air terlihat tidak jernih.
Jika tingkat kekeruhan air tinggi, kondisi tersebut dapat menandakan adanya partikel organik maupun anorganik di dalam air.
d. Bau
Bau pada air dapat menjadi tanda adanya senyawa organik di dalamnya. Perubahan bau biasanya muncul ketika terdapat zat tertentu yang tercampur di dalam air.
Jika air memiliki bau yang menyengat, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya bakteri atau kandungan zat organik di dalam air.
e. Warna
Warna air dapat diukur menggunakan alat yang disebut spektrofotometer. Alat ini membantu melihat tingkat warna yang terdapat pada air secara lebih akurat.
Perbedaan warna pada air bisa menjadi tanda adanya zat tertentu di dalamnya, baik senyawa organik maupun senyawa anorganik.
Baca juga: Air Limbah Domestik: Kenali Jenis dan Bagaimana Mengelolanya
2. Kimia
Selain parameter fisika, kualitas air juga dinilai melalui parameter kimia. Bagian ini berkaitan dengan kandungan zat atau senyawa yang terdapat di dalam air. Keberadaan zat kimia tertentu dapat memengaruhi kondisi air serta kehidupan organisme yang hidup di dalamnya.
Beberapa indikator yang termasuk dalam parameter kimia kualitas air adalah sebagai berikut:
a. COD (Chemical Oxygen Demand)
Parameter ini menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa organik serta zat kimia yang terdapat di dalam air.
Jika nilainya tinggi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa air mengandung banyak senyawa organik maupun zat kimia yang perlu diuraikan.
b. BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD merupakan ukuran yang menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan senyawa organik yang terdapat di dalam air.
Jika nilai BOD tinggi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa air mengandung cukup banyak senyawa organik.
c. Kandungan Logam Berat
Kandungan logam berat dalam air dapat diukur menggunakan alat yang disebut spektrofotometer. Alat ini membantu mengetahui apakah air mengandung logam berat atau tidak.
Jika jumlah logam berat di dalam air terlalu tinggi, kondisi tersebut dapat merusak organisme yang hidup di perairan. Air yang mengandung logam berat juga dapat membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi.
d. Kandungan Nitrat dan Fosfat
Kandungan nitrat dan fosfat dalam air dapat menjadi tanda adanya zat yang dapat mendorong pertumbuhan alga.
Jika jumlahnya terlalu tinggi, alga dapat tumbuh dengan cepat sehingga air terlihat lebih keruh. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas air.
e. pH
pH adalah ukuran yang menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan air. Nilai pH membantu menggambarkan kondisi air. Itulah mengapa perlu diketahui apakah air bersifat asam, netral, atau basa.
Jika pH air terlalu tinggi atau terlalu rendah, organisme yang hidup di dalam air dapat terganggu. Kondisi ini juga bisa memengaruhi kemampuan organisme air dalam menyerap nutrisi yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.
Baca juga: Potensi Energi Terbarukan di Indonesia yang Perlu Diketahui
3. Biologi
Selain aspek fisika dan kimia, kualitas air juga dapat dilihat dari parameter biologi. Bagian ini berkaitan dengan keberadaan mikroorganisme atau kondisi biologis yang terdapat di dalam air.
Beberapa indikator biologis dapat menunjukkan apakah air berpotensi tercemar atau tidak. Adapun salah satu indikator yang termasuk dalam parameter biologi kualitas air adalah bakteri coliform.
Bakteri coliform merupakan kelompok bakteri yang biasanya hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan. Keberadaan bakteri ini sering digunakan sebagai penanda kondisi kebersihan air.
Jika bakteri coliform ditemukan dalam air, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa air kemungkinan juga mengandung bakteri patogen lain yang berpotensi menyebabkan penyakit.
Solusi Profesional untuk Pengelolaan Kualitas Air
Menjaga kualitas air penting dilakukan agar air tetap aman digunakan. Oleh karena itu, diperlukan solusi pengelolaan air yang mampu menjaga kondisi air tetap sesuai dengan parameter kualitas air, yaitu fisika, kimia, dan biologi. Melalui pengelolaan yang tepat, kondisi air dapat dipantau dan dikendalikan sehingga tetap layak digunakan.
Salah satu penerapannya dapat dilihat di Gedung Krakatau Steel Building, Jakarta. Di gedung ini digunakan Water Recycle Plant (WRP) sebagai sistem pengolahan air modern yang mengelola air dari berbagai aktivitas di dalam gedung, terutama dari toilet, dengan kapasitas sekitar 2 m³ per jam. Setelah diproses melalui sistem tersebut, air dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan sistem pendingin gedung sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.
Sistem WRP tersebut dibangun dan dikelola oleh Krakatau Tirta Industri (KTI), yang merupakan perusahaan afiliasi dari Chandra Daya Investasi (CDI). Pengelolaannya menggunakan skema Build, Operate, Own (BOO).
Dalam prosesnya, digunakan teknologi seperti Membrane Bio Reactor (MBR) dan Ion Exchange (decolouration). Teknologi ini membantu membersihkan air dari berbagai zat yang dapat memengaruhi kualitasnya sehingga air yang dihasilkan menjadi lebih bersih dan layak digunakan kembali.
Dengan pengelolaan yang tepat, kualitas air dapat tetap terjaga sehingga pemanfaatannya menjadi lebih efisien dan tetap mendukung lingkungan yang lebih baik. Untuk itu, mari jaga kualitas air dengan memanfaatkan solusi pengelolaan air dari Krakatau Tirta Industri yang merupakan bagian dari Chandra Daya Investasi, #YourGrowthPartner.
Baca juga: Mengenal Instalasi Pengolahan Air dan Cara Kerjanya