Apakah operasional bisnis Anda sering melibatkan pengiriman kapal laut? Jika ya, ship chartering merupakan solusi fleksibel yang bisa Anda coba. Dengan ship chartering, Anda bisa menyesuaikan kebutuhan transportasi laut dengan dinamika pasar.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari definisi, proses, jenis, serta peran ship chartering dalam mendukung operasional bisnis. Untuk memahaminya secara mendalam, simak penjelasannya sampai selesai!
Apa Itu Ship Chartering?
Ship chartering adalah proses ketika pemilik kapal (shipowner) menyewakan kapalnya kepada penyewa (charterer) untuk mengangkut penumpang atau kargo.
Kapal yang disewakan bisa berupa kapal penumpang, kapal kerja (workboat), kapal tanker, kapal curah, maupun kapal kontainer yang beroperasi di industri maritim internasional.
Hubungan antara shipowner dan charterer diatur dalam charter party, yaitu kontrak yang menjelaskan durasi dan tarif sewa, tanggung jawab awak kapal, operasional kapal, serta pengelolaan muatan.
Bagaimana Ship Chartering Bisa Membantu Bisnis?
Pebisnis yang membutuhkan transportasi laut dalam skala besar dapat mempertimbangkan ship chartering untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya. Sistem ini dapat membantu bisnis dengan beberapa cara.
Pertama, ship chartering membantu mengurangi kebutuhan modal awal. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk membeli kapal sendiri dan dapat menyesuaikan kapasitas pengiriman dengan permintaan tanpa terbebani oleh kepemilikan armada jangka panjang.
Kedua, ship chartering menawarkan fleksibilitas operasional. Perusahaan dapat memilih jenis kapal yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, saat perlu mengirim minyak, perusahaan bisa memilih sewa kapal tanker. Sementara itu, opsi container ship tersedia untuk pengiriman barang dalam kontainer.
Ketiga, ship chartering memungkinkan optimasi sumber daya. Perusahaan bisa fokus pada kompetensi inti bisnisnya, sementara pengoperasian dan perawatan kapal, asuransi, serta penggajian awak kapal ditangani oleh pemilik kapal yang berpengalaman.
Terakhir, ship chartering mendukung konektivitas global dengan mempermudah distribusi barang ke berbagai negara. Dengan demikian, ship chartering cocok bagi pelaku usaha yang ingin mengekspansi bisnisnya ke pasar internasional.
Baca juga: Kapal Minyak: Pengertian, Jenis, dan Operasionalnya
Proses Ship Chartering
Secara garis besar, proses ship chartering melalui tahapan berikut:
1. Identifikasi Kebutuhan Pengiriman
Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan pengiriman, seperti jenis, volume, dan jumlah kargo, rute pelayaran, serta jadwal pengiriman.
Jenis kargo yang umum diangkut antara lain penumpang, dry bulk cargo (batu bara, bijih besi), liquid bulk cargo (minyak mentah, LPG), barang dalam kontainer, serta alat berat untuk kebutuhan proyek.
2. Pencarian Armada yang Sesuai
Setelah mengetahui kebutuhan secara detail, charterer mencari armada kapal yang paling sesuai. Jika charterer belum memiliki jaringan atau pengetahuan yang memadai, mereka dapat memanfaatkan jasa ship broker.
Ship broker merupakan pihak yang menghubungkan charterer dengan shipowner. Mereka mempunyai informasi mengenai kapal yang tersedia di pasar, rute dan jadwal kapal, serta tarif charter yang berlaku.
Pencarian armada umumnya mempertimbangkan kapasitas muatan, jenis dan ketersediaan kapal, pelabuhan asal dan tujuan, serta jadwal pelayaran.
3. Negosiasi dan Pembuatan Kontrak
Pada tahap ini, shipowner dan charterer melakukan negosiasi terkait durasi sewa, pembagian tanggung jawab, tarif, serta ketentuan operasional. Hasil negosiasi kemudian disusun dalam charter party yang ditandatangani kedua belah pihak dan mengikat secara hukum.
4. Pelaksanaan dan Pemantauan
Setelah penandatanganan charter party, proses pengangkutan bisa dimulai. Selama pengangkutan, shipowner perlu memastikan operasional kapal sesuai rencana, muatan tiba tepat waktu, dan tidak terjadi kendala operasional yang signifikan.
5. Evaluasi dan Manajemen Risiko
Tahap terakhir adalah mengevaluasi proses dan mengelola berbagai risiko yang mungkin timbul, baik terkait asuransi, kepatuhan terhadap regulasi maritim, biaya operasional, kerusakan muatan, maupun risiko lainnya.
Tujuannya agar perusahaan bisa meminimalkan kerugian dan meningkatkan efektivitas pengiriman selanjutnya.
Baca juga: Bongkar Muat Pelabuhan: Tahapan dan Dokumen yang Dibutuhkan
Jenis-Jenis Ship Chartering
Dalam praktiknya, ship chartering terbagi menjadi tiga jenis. Perbedaannya terletak pada durasi sewa, tingkat kontrol atas kapal, serta tanggung jawab shipowner dan charterer. Berikut jenis-jenis ship chartering yang perlu diketahui:
1. Voyage Charter
Voyage charter adalah proses menyewa kapal untuk satu kali perjalanan. Dalam voyage charter, shipowner menyediakan kapal dan awaknya, menanggung biaya pelabuhan, serta bertanggung jawab atas pengoperasian kapal selama perjalanan.
Adapun charterer cukup membayar biaya angkut (freight) berdasarkan berat kargo atau tarif lump sum (tarif tetap untuk seluruh perjalanan). Freight biasanya dinegosiasikan berdasarkan kondisi pasar dan jenis kargo.
Selain membayar freight, charterer juga perlu menanggung biaya penanganan dan pemuatan kargo. Setelah barang tiba di tujuan ship charter, kontrak otomatis berakhir.
Voyage charter cocok bagi pemilik kargo yang membutuhkan kapal untuk satu kali pengiriman tanpa harus terikat pada perjanjian jangka panjang.
2. Time Charter
Seperti namanya, time charter merupakan proses sewa kapal untuk jangka waktu tertentu, misalnya enam bulan, satu tahun, dan seterusnya.
Selama jangka waktu yang ditentukan, charterer bebas menggunakan kapal ke mana pun dan membawa muatan apa pun (selama sesuai dengan kontrak). Namun, kapal dan kru tetap menjadi milik shipowner.
Dalam time charter, charterer menanggung seluruh biaya bahan bakar, biaya pelabuhan, serta biaya lain yang berhubungan dengan pelayaran. Sementara itu, shipowner bertanggung jawab atas penyediaan awak kapal dan perawatan armada.
Time charter umum digunakan untuk mengangkut barang dalam beberapa pelayaran. Opsi ini ideal untuk operasi jangka panjang karena menawarkan fleksibilitas dalam perencanaan kargo dan rute serta memberikan kontrol lebih kepada charterer.
3. Bareboat Charter
Apabila Anda membutuhkan kontrol operasional yang sangat tinggi, bareboat charter bisa menjadi solusi yang tepat.
Pasalnya, shipowner hanya menyediakan kapal dalam kondisi layak operasi (seaworthy), sedangkan semua keperluan operasional, finansial, dan biaya pengoperasian kapal ditanggung oleh charterer.
Biaya pengoperasian ini meliputi perekrutan kru, bahan bakar, perawatan, asuransi, biaya pelabuhan, serta risiko kontraktual. Bareboat charter banyak dipilih oleh perusahaan yang memiliki keahlian dan sumber daya untuk mengelola seluruh aspek operasional kapal.
Berhubung kontrol charterer sangat besar, jenis ship chartering ini sering disebut mirip dengan leasing jangka panjang. Bahkan, tak jarang kepemilikan kapal beralih kepada charterer setelah masa sewa berakhir.
Menariknya, bareboat charter tidak hanya berlaku untuk kapal muatan barang, tetapi juga kapal pesiar (yacht). Variasi ini disebut bareboat yacht charter dan biasanya dipilih untuk liburan pribadi maupun menggelar acara tertentu.
Solusi Logistik Laut CDI Bantu Tingkatkan Daya Saing Bisnis
Ship chartering merupakan salah satu aktivitas penting dalam logistik laut. Dengan menyewa kapal yang tepat, perusahaan bisa mengoptimalkan distribusi kargo dan efisiensi logistik laut sehingga daya saing bisnis berpotensi meningkat.
Perusahaan Anda sedang mencari kapal yang tangguh dengan tim yang tepercaya? PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI),melalui anak usahanya, PT Chandra Shipping International (CSI), hadir dengan solusi logistik laut untuk sektor energi dan kimia.
CSI kini memiliki lebih dari 10 kapal pengangkut LPG dan bahan kimia dengan kapasitas berkisar antara 4.200–9.600 DWT. Jumlah armadanya berpotensi meningkat seiring waktu.
Selain unggul dari sisi armada, layanan CSI juga didukung oleh kru berpengalaman, manajemen kapal yang kuat, serta kepatuhan terhadap standar maritim internasional.
Sebagai #YourGrowthPartner, CDI dan CSI siap membantu Anda menjalankan logistik laut yang lebih profitable dan berdaya saing tinggi.
Baca juga: Logistik Laut: Cara Kerja dan Keunggulannya untuk Bisnis