Floating roof tank menjadi salah satu solusi penting dalam dunia industri untuk mengelola penyimpanan cairan secara efisien, aman, dan ramah lingkungan.
Tangki ini banyak digunakan dalam industri minyak, petrokimia, hingga kimia karena kemampuannya dalam mengurangi penguapan dan menjaga kualitas produk.
Dengan desain inovatif, floating roof tank mampu menyesuaikan diri terhadap volume cairan yang disimpan sehingga memberikan banyak keuntungan operasional bagi perusahaan.
Lantas, apa saja komponen dan jenis floating roof tank yang banyak digunakan di sektor industri? Mari simak pembahasannya di bawah ini.
Apa Itu Floating Roof Tank?
Floating roof tank adalah tangki penyimpanan yang dilengkapi dengan atap terapung yang dapat naik dan turun mengikuti level cairan di dalam tangki. Tangki jenis ini umumnya digunakan untuk menyimpan cairan yang mudah menguap seperti bensin, avtur, minyak mentah, solar, dan produk minyak ringan lainnya.
Atap ini mengapung langsung di atas permukaan cairan sehingga hampir tidak ada ruang kosong (vapor space) di dalam tangki. Atap terapung berfungsi menutup permukaan cairan secara langsung sehingga mampu mengurangi penguapan hingga lebih dari 90%.
Meskipun begitu, tingkat pengurangan emisi dapat bervariasi tergantung pada kondisi operasional, termasuk suhu lingkungan, volatilitas cairan, kondisi seal, dan perubahan level cairan.
Sistem floating roof tank bekerja secara pasif. Jadi, saat volume cairan bertambah atau berkurang akibat pengisian atau pengosongan, atap akan secara otomatis bergerak naik atau turun mengikuti perubahan tersebut. Dengan begitu, tangki tetap tertutup rapat dan meminimalkan pelepasan uap berbahaya ke udara.
Selain itu, penggunaan floating roof storage tank juga membantu mengurangi risiko kebakaran dan ledakan karena mencegah terbentuknya campuran uap dan udara yang mudah terbakar.
Komponen Floating Roof Tank
Secara umum, floating roof tank terdiri dari dua komponen utama, yaitu:
- Atap Terapung (Floating Roof). Bagian ini menjadi elemen paling penting karena berfungsi menutup permukaan cairan dan bergerak mengikuti level isi tangki.
- Segel Keliling (Seal). Seal berada di antara atap dan dinding tangki. Fungsinya adalah memastikan tidak ada celah yang memungkinkan uap atau cairan keluar dari tangki.
Seal ini bekerja seperti tabung fleksibel yang terus menempel pada dinding tangki saat atap bergerak. Untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi, biasanya digunakan dua lapis seal, yaitu primary seal dan secondary seal. Lapisan tambahan ini mampu menekan emisi gas dan uap secara signifikan, sekaligus melindungi lingkungan.
Baca juga: Mengenal Instalasi Pengolahan Air dan Cara Kerjanya
Jenis Floating Roof Tank
Ada dua jenis utama desain floating roof tank yang umum digunakan di industri, yaitu:
1. Internal Floating Roof Tank (IFRT)
Internal floating roof tank adalah tangki yang memiliki atap tetap di bagian luar, yang biasanya berbentuk kubah atau kerucut, serta atap terapung di bagian dalam.
Desain ini memberikan perlindungan ekstra terhadap kondisi cuaca seperti hujan, angin, atau panas ekstrem. Dengan adanya atap luar, atap terapung di dalam tangki tidak terkena langsung oleh lingkungan luar.
Adapun beberapa keunggulan utama IFRT adalah sebagai berikut:
- Mengurangi penguapan (vapor space) secara lebih efektif.
- Menurunkan risiko pencemaran udara.
- Memberikan perlindungan tambahan terhadap produk.
- Meminimalkan risiko kebakaran.
Selain itu, lapisan gas di dalam ruang uap juga berfungsi sebagai isolasi termal yang membantu menjaga suhu cairan tetap stabil. IFRT sering dilengkapi dengan sistem monitoring modern untuk memastikan kinerja optimal dan kepatuhan terhadap regulasi.
Di samping keunggulan-keunggulan tersebut, IFRT memiliki sejumlah kelemahan yang juga perlu diperhatikan. Berikut beberapa di antaranya:
- Biaya pemeliharaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan EFRT.
- Desain lebih rumit dibandingkan dengan EFRT.
- Diperlukan pemeliharaan rutin atap apung agar tetap kedap air.
- Diperlukan pemeriksaan ponton secara berkala.
2. External Floating Roof Tank (EFRT)
External floating roof tank adalah tangki dengan atap terbuka dengan atap terapung yang langsung berada di atas permukaan cairan tanpa pelindung tambahan di bagian atas.
Tangki ini memiliki struktur silinder terbuka dengan atap terapung berbentuk single deck atau double deck. Sistem seal di bagian tepi tetap digunakan untuk mencegah penguapan dan masuknya kontaminan. Keunggulan EFRT meliputi:
- Desain lebih sederhana.
- Biaya konstruksi lebih rendah dibandingkan dengan IFRT.
- Efektif untuk penyimpanan cairan volatil dalam skala besar.
Seal pada EFRT berperan penting dalam menjaga kualitas produk dan mengurangi kehilangan akibat penguapan. Selain itu, desain EFRT juga membantu mencegah masuknya debu, air, atau partikel lain yang dapat mencemari isi tangki.
Namun, perlu diketahui juga jika EFRT memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:
- Lebih rentan terhadap kebakaran dan ledakan jika dibandingkan dengan IFRT karena atap apung tidak cukup memberikan perlindungan terhadap sumber api.
- Atap apung juga rentan rusak akibat faktor lain, seperti angin kencang dan beban air hujan atau salju yang berat sehingga dapat menyebabkan terjadinya kebocoran serta tumpahan.
Baca juga: Kapal Minyak: Pengertian, Jenis, dan Operasionalnya
Manfaat Floating Roof Tank
Penggunaan floating roof tank memberikan berbagai manfaat signifikan bagi industri, terutama yang berhubungan dengan bahan kimia dan petrokimia. Salah satu yang paling utama adalah mengurangi emisi uap secara efisien.
Floating roof tank merupakan salah satu solusi yang tergolong ekonomis dan efisien untuk mengurangi vapor emissions serta kehilangan produk (evaporative losses) selama penyimpanan.
Vapor emissions sendiri merupakan pelepasan uap atau gas kimia, terutama Volatile Organic Compounds (VOCs), yang banyak dihasilkan dari aktivitas industri seperti kilang minyak dan tangki penyimpanan bahan bakar.
Menurut penelitian berjudul “Environmental and Health Risk Assessments of Volatile Organic Compounds (VOCs) Based on Source Apportionment” yang diterbitkan di jurnal Toxics (2025), senyawa ini sangat mudah menguap dan berbahaya.
Disebutkan bahwa VOC dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti kanker, gangguan pernapasan, hingga kerusakan sistem saraf.
Selain itu, VOC juga berkontribusi terhadap pencemaran udara melalui pembentukan ozon troposfer dan partikel berbahaya lainnya.
Secara global, tingkat emisi VOC masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius, terutama di kawasan industri.
Oleh karena itu, penggunaan teknologi seperti floating roof tank, Vapor Recovery Unit (VRU), dan sistem tertutup menjadi langkah penting untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, ada juga beberapa manfaat lain dari floating roof tank, yaitu:
- Fleksibilitas Kapasitas Penyimpanan. Tangki ini mampu menyesuaikan kapasitas penyimpanan secara otomatis sesuai volume cairan, sehingga lebih efisien dalam penggunaan ruang.
- Kepatuhan Lingkungan. Tangki ini membantu perusahaan memenuhi regulasi lingkungan dengan mengurangi emisi gas berbahaya ke atmosfer.
- Perlindungan dari Cuaca dan Kontaminasi. Floating roof tank mampu melindungi isi tangki dari hujan, debu, dan faktor lingkungan lainnya yang dapat merusak kualitas produk.
- Keamanan yang Lebih Tinggi. Dengan meminimalkan ruang uap, risiko kebakaran dan ledakan menjadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan tangki konvensional.
- Memperpanjang Umur Produk. Produk yang disimpan tetap stabil dan tidak mudah teroksidasi sehingga masa pakainya menjadi lebih lama.
- Keandalan Operasional. Tangki ini mendukung operasional industri yang berkelanjutan dengan risiko kehilangan produk yang rendah.
- Fleksibilitas Aplikasi. Floating roof tank dapat digunakan untuk berbagai jenis cairan sehingga cocok untuk sektor-sektor tertentu, seperti:
- Industri minyak dan gas.
- Kilang dan petrokimia.
- Terminal penyimpanan dan distribusi bahan bakar.
Perbedaan Floating Roof Tank dan Fixed Roof Tank
Fixed roof tank adalah tangki dengan atap tetap yang tidak bergerak. Berbeda dengan floating roof tank, tangki ini memiliki ruang uap di antara cairan dan atap. Berikut perbedaan utama antara keduanya:
- Desain: Floating roof tank memiliki atap yang bergerak, sedangkan fixed roof tank statis.
- Emisi: Floating roof tank lebih efektif mengurangi penguapan.
- Keamanan: Floating roof tank lebih aman untuk cairan volatil.
- Biaya: Fixed roof tank lebih murah dalam konstruksi dan perawatan.
- Aplikasi: Fixed roof tank cocok untuk cairan non-volatile seperti air atau minyak berat.
Pemilihan jenis tangki sangat bergantung pada karakteristik cairan yang disimpan serta kebutuhan operasional perusahaan.
Layanan Kepelabuhanan dan Penyimpanan dari Chandra Daya Investasi
Sebagai bagian dari komitmen dalam mendukung industri petrokimia, Chandra Daya Investasi (CDI) Group melalui PT Redeco Petrolin Utama menyediakan layanan kepelabuhanan dan penyimpanan yang terintegrasi dan andal sebagai solusi penyimpanan curah cair yang profesional dan efisien.
RPU telah beroperasi sejak 1986 di Banten dan dikenal sebagai pemain terkemuka dalam pengelolaan tangki penyimpanan bahan kimia dan petrokimia. Dengan fasilitas yang lengkap, RPU menawarkan:
- 2 dermaga dengan LOA masing-masing 200 meter dengan kapasitas kapal hingga 35.000 DWT dan draft 10 meter.
- 72 tangki penyimpanan dengan total kapasitas 130.000 m³.
- Sistem pengisian bahan bakar terpusat (CFS).
- Sistem layanan pelanggan berbasis digital (COS).
- Standar keamanan tinggi, termasuk sistem penanggulangan tumpahan minyak menggunakan oil boom.
Seluruh operasional dijalankan sesuai standar internasional dengan sertifikasi ISO sehingga memastikan keamanan, kualitas, dan keberlanjutan lingkungan.
Menjawab meningkatnya kebutuhan industri di Indonesia, RPU terus menghadirkan solusi logistik dan penyimpanan yang fleksibel, efisien, dan terpercaya.
Jika Anda mencari mitra penyimpanan bahan kimia dan petrokimia yang andal, PT Redeco Petrolin Utama dan Chandra Daya Investasi siap menjadi #YourGrowthPartner untuk mendukung pertumbuhan bisnis Anda.
Baca juga: Efisiensi Energi sebagai Upaya Industri Mengelola Energi